TUGAS SENI RUPA
Ilham Caresa Wardana / 16 / 9. 7
Keraton Mangkunegaran berlokasi di Jalan Ronggowarsito,
Surakarta ( Solo ). Penguasa Mangkunegaran disebut Mangkunegara. Secara resmi,
bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha
Sudibyaningprang yang ke I, II, III, dst. Orisinil. Seolah ditakdirkan
mengembalikan segala yang hilang dari Jawa.
Sejak umur 16, Pangeran Sambernyawa (
Mangkunegara I ) berjuang melawan Belanda.
Mangkunegaran dari dinasti Mataram. Pangeran Sambernyawa ( Raden
Mas Said ) memulainya. Sejak umur 16 tahun, beliau telah berjuang. Dengan
keahlian militernya, Mangkunegara I menghadapi pasukan gabungan Belanda,
Pakubuwana III dan pangeran Mangkubumi sekaligus. Gagah berani.
Penguasa Surakarta dan Yogyakarta membangun kekuasaan dengan
simbol. Mangkunegara I dengan aksi. Rasionalisasi kekuasaan ini dilanjutkan
pewarisnya. Mangkunegaran II. Kerajaan kuat, kawula makmur. Karya sastra terbit
dan dirujuk masyarakat Jawa hingga kini. Mangkunegaran menjadi penyeimbang
tangguh dan pandai memainkan kartu truf. Tak suka didikte. Tak segan bertindak
tegas menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya.
Setiap generasi raja Mangkunegaran dipersiapkan menjadi pemimpin
yang cakap dan cerdik. Putra mahkota, bergelar Pangeran Prangwadana, secara
berjenjang diberi beban tanggung jawab sejak remaja. Penguasa Mangkunegaran :
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I ( 1757-1795 ), Kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II ( 1796-1835 ), Mangkunegara III (
1835-1853 ), Mangkunegara IV ( 1853-1881 ), Mangkunegara V ( 1881-1896 ),
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916), Mangkunegara
VII ( 1916-1944 ), Mangkunegara VIII (1944-1987 ), Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang ).
Gaya klasik Eropa pun terasa Jawa di
keraton. Kreatif, inovatif, bermartabat.
Keraton Mangkunegaran hari ini. Otoritas
wilayahnya tak seluas dulu. Namun, keluarga Mangkunegara tak perlu berkecil
hati. Jika NKRI adalah milik kita bersama, maka seluas Indonesia pula kalian
bisa berkiprah dan memetik kebanggaan. Suatu hari nanti.
Mangkunegaran terdiri 2 bangunan utama, Pendopo ( balairung
istana, tempat menerima tamu ) dan Dalem ( balairung utama ) yang dikelilingi
kediaman keluarga raja. Terbuat dari kayu jati utuh. Keraton indah dan terawat
ini dibangun Raden Mas ( 17 Maret 1757 ) setelah pertarungan sengit keluarganya
dengan VOC ( East India Company ).
Bangunan yang menghadap ke selatan ini mencermati pertemuan
budaya Jawa dan Eropa lalu mengakulturasikannya menjadi milik Jawa. Pendopo beratap
joglo baru dibangun masa Mangkunegara IV ( 1866 ). Bangunan Jawa aslinya tak
kenal teras. Elemen dari villa Eropa ini lalu diadopsi dengan indah. Gaya
klasik dan neo klasik Eropa berpadu dengan semangat neo klasik Jawa. Kolom
bulat dari besi cor dan konsolnya menampakkan perpaduan tersebut.
Denah keraton berpola linear dan tertutup. Struktur dinding
pemikul menyatukan atap dan dinding. Bukaan jendela dan pintu lebar. Skala
ruang tinggi dan luas. Iklim tropis menjadi terasa nyaman. Ornamen dan pahatan
secara simbolis menampilkan citra dan fungsi. Empire style menghadirkan
kewibawaan raja. Mangkunegaran memang terbuka untuk inovasi dan ide baru.
Bagian timur, Bale Peni, kediaman para pangeran. Bagian barat,
Bale Warni, kediaman para putri. Naskah langka agama dan filsafat dalam tulisan
Jawa tersimpan di perpustakaan Reksopustoko. Mangkunegara IV membuat
perpustakaan di lantai dua ini tahun 1867. Sejarawan dan pelajar mempelajari
manuskrip bersampul kulit di sela semilir angin dari jendela kayu yang terbuka
lebar. Juga, buku dalam berbagai bahasa, koleksi foto bersejarah dan data
perkebunan milik Mangkunegaran.
Pendopo berjoglo terbesar di Indonesia.
10.000 orang tahun 1757 ?
Kereta kencana membawa pangeran tampan
dalam sebuah kirab budaya. Seperti melihat film laga kolosal “Saur Sepuh”. Atau
Saur Sepuh yang meniru para penghuni keraton ? Saya masih terkagum-kagum dengan
budaya kita sendiri. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya bercita rasa
tinggi. Dibalut karya seni adiluhung. Seganteng dan sekreatif itukah leluhur
kita ?
Perundingan Giyanti ( 1755 ) membagi pemerintahan Jawa menjadi
Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Raden Mas lalu membangun
kediamannya di tepi Sungai Pepe. Keraton berukuran lebih kecil ini terdiri
pamedan, pendopo agung, paringgitan, dalem ageng dan keputren. Tembok kokoh
mengelilinginya. Memasuki pintu gerbang utama, tampaklah Pamedan, lapangan luas
tempat berlatih pasukan Mangkunegaran. Di timur, terlihat Gedung Kavaleri,
bekas kantor pasukan berkuda Mangkunegaran. Revitalisasi keraton sekarang
didanai pemerintah melalui pemda. Bangunan dipulihkan, sebagian dengan fungsi
berbeda. Contohnya, markas legiun Mangkunegaran ini.
Melewati pintu gerbang kedua, terlihat Pendopo Agung seluas
3.500 m2. Pendopo joglo terbesar di Indonesia, menampung 5.000 – 10.000 orang.
Tiang kayu persegi yang menyangga atap joglo berasal dari hutan Danalaya di
perbukitan Wonogiri. Elemen konstruksi dihubungkan tanpa paku. Di sini, satu
set gamelan dimainkan secara rutin, tiga set lainnya untuk upacara khusus.
Warna kuning dan hijau ( padi muda ), warna khas keluarga Mangkunegaran. Lampu
antik tergantung di langit-langit. Lukisan Kumudawati berwarna terang
menampakkan pengaruh Hindu Jawa : 12 belas bintang astrologi dan 8 kotak
berwarna. Kuning berarti siaga, biru berarti mencegah bencana, hitam berarti
melawan kemarahan, hijau berarti melawan stres, putih berarti melawan hawa
nafsu, oranye berarti melawan rasa takut, merah berarti melawan kejahatan, ungu
berarti melawan pikiran jahat.
Di belakang Pendopo, terlihat beranda terbuka bernama
Pringgitan. Tangga di sana mengarah ke Dalem Ageng seluas 1.000 m2. Dahulu,
ruang tidur pengantin kerajaan. Kini, museum keraton Mangkunegaran. Ada Petanen
( tempat bersemayam Dewi Sri ) berlapis sutera tenun di dalamnya. Juga,
perhiasan, senjata, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar
raja-raja Mangkunegaran dan benda seni lainnya.
Di belakang Dalem Agung, kediaman keluarga Mangkunegaran
terlihat seperti rumah pedesaan yang tenang. Pohon, bunga, semak hias menjadi
cagar alam bagi burung yang berkicau dan kupu aneka warna. Air mancur
menawarkan kesegaran di bawah matahari. Patung klasik gaya Eropa turut
menghiasi.
Beranda dalam bersudut delapan menghadap taman ini, bersama
tempat lilin dan perabot Eropa. Kaca berbingkai emas berjajar rapi di dinding.
Tampak ruang makan mengintip, dengan jendela kaca berwarna ( pemandangan Jawa
), ruang ganti – rias, dan kamar mandi.
Masjid Mangkunegaran, arsitek Perancis ikut mendesain saat
pemugarannya.
Denah Masjid Mangkunegaran atau Masjid
Al-Wustho
Menyeberang jalan raya, Mesjid Mangkunegaran berdiri anggun,
seluas 4.200 m2 dan dipagari tembok berbentuk lengkung. Mesjid Lambang
Panotogomo ini diprakarsai Mangkunegara I di Kadipaten. Sebelumnya, terletak di
wilayah Kauman, Pasar Legi. Pada masa Mangkunegara II, dipindah ke Banjarsari,
lebih dekat ke Mangkunegaran. Abdi dalem yang mengelolanya, sehingga mesjid ini
berstatus Masjid Kagungan Dalem Puro Mangkunegaran. Mangkunegara VII meminta
arsitek Perancis ikut mendesain ( dalam pemugaran ) kompleks mesjid
Mangkunegaran.
Masjid Mangkunegaran terdiri : Serambi ( ruang depan masjid dengan 18
saka, melambangkan umur Raden Mas saat keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta,
untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunegaran. Bedug di serambi bernama
Kanjeng Kyai Danaswara ), Ruang
Sholat Utama ( ruang
dalam dengan 4 saka guru dan 12 penyangga berhiaskan kaligrafi Qur’an.
Kaligrafi juga ditemui di pintu gerbang, kuncungan, saka dan maligin ),Pawestren ( tempat sholat khusus wanita ), Maligin (tempat
khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Mangkunegaran VII kemudian memperkenankan
Muhammadiyah menggunakannya untuk khitanan umum ), Menara ( dibangun tahun 1926, masa
Mangkunegaran VII. Di minaret, 4 muadzin mengumandangkan azan ke empat
arah berbeda ). KH Imam Rosidi ( penghulu Mangkunegaran ) menamai Masjid
Mangkunegaran ini Masjid Al-Wustho ( tahun 1949 ).
Bertahan dengan aset budaya. Pengorbanan
keluarga kerajaan se-nusantara untuk NKRI.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,
kediaman keluarga Pakubuwana, lengkap dengan Alun-alun khas Jawa. Pusat
pemerintahan Jawa ini kemudian terbagi menjadi Kasunanan, Mangkunegaran dan
Yogyakarta. Gara-gara kompeni sih..
Menurut Sudarmono ( sejarawan UNS ), Raden Mas Said sudah
mengukuhkan diri sebagai raja dengan Deklarasi Adeging Pura Mangkunegaran ( 24
Februari 1757 ). Sesudah NKRI terbentuk, disusul penghapusan swapraja ( sekitar
1950-an ) dan pemberlakuan UU Pokok Agraria ( 1960 ), otoritas kerajaan di
nusantara menciut. Dalam Babad Giyanti dan Babad Lalampahan, Pangeran
Sambernyawa dikukuhkan sebagai adipati yang menguasai wilayah Kadaung, Matesih,
Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Dalam peta
sekarang, wilayah tersebut menembus wilayah Karesidenan Surakarta, Kedu, bahkan
Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). Kenyataan, otoritas Mangkunegaran sekarang tinggal
selebar keraton ini.
Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo berpakaian layaknya masyarakat
umum, meski di lingkungan istana. Sebagai abdi dalem, ia berpakaian adat jika
ada acara resmi kerajaan. Abdi dalem pun tinggal 300 orang. Yang setiap hari di
lingkungan istana hanya 150 orang. Kini, Mangkunegaran hanya memiliki 3 kantor
departemen : Mandrapura ( bagian umum ), Kawedanan Kasatriyan ( mengurus
peninggalan sejarah ) dan Reksa Budaya ( perpustakaan dan aktivitas budaya ).
Untuk menjaga eksistensinya, Mangkunegaran memanfaatkan subsidi pemerintah.
Selebihnya, bertahan dengan aset budaya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar